“Makanan Super” “Daun Kelor untuk Pencegahan Stunting pada Anak ”

Foto Page Detail

 

   

Anak menjadi aset penting dalam perkembangan bangsa dan negara di masa yang akan datang sementara stunting masih menjadi masalah terbesar untuk perkembangan dan kemajuan bangsa terutama di Indonesia. Untuk menghindari masalah tersebut perlu perbaikan gizi yang diberikan pada anak yang berusia 6-24 bulan (Yunus et al., 2021). Usia 6-24 bulan adalah periode penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu penting untuk memperhatikan asupan gizi anak. World Health Organization (WHO) menyarankan untuk memberikan makanan yang aman, bergizi dan diberikan pada usia yang tepat disamping terus memberikan Air Susu Ibu (ASI) pada anak. Jika hal ini tidak dilakukan maka akan mengganggu tumbuh kembang anak (Tampubolon, 2021).

Malnutrisi atau kegagalan pertumbuhan adalah masalah kesehatan masyarakat yang menghebohkan, dan terus menjadi masalah kesehatan anak utama secara nasional, terutama di Asia Tenggara dan Afrika. Kelainan patologis yang disebabkan oleh ketidakseimbangan, ketidakcukupan atau komsumsi zat gizi makro (karbohidrat, protein dan lemak) yang memasok energi makanan dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) yang diperlukan untuk perkembangan fisik dan kognitif (Zungu et al., 2019). Menurut WHO stunting merupakan permasalahan global yang diperkirakan sejumlah 149 juta balita mengalami stunting pada tahun 2018. Tren stunting secara global memiliki kecendrungan menurun dalam delapan belas tahun terakhir (2000-2018) yakni sebesar 10,6% begitu pula dengan indonesia, prevelensi stunting mengalami penurunan hingga 6,4 pada rentang tahun 2013-2019, namun indonesia masih termasuk dalam klasifikasi negara dengan prevelensi stunting sangat tinggi (Maria et al., 2020).

Stunting atau kurang gizi kronik adalah kegagalan pertumbuhan dan perkembangan. Kurang gizi kronik adalah keadaan yang sudah terjadi sejak lama , bukan seperti kurang gizi akut. Anak yang mengalami stunting sering terlihat memiliki badan normal yang dimiliki anak seusianya stunting pada anak usia di bawah lima tahun biasanya kurang disadari ole masyarakat(184 article). Usia di bawah lima tahun merupakan periode emas dalam menentukan kualitas sumber daya manusia yang dilihat dari segi pertumbuhan fisik maupun kecerdasan, sehingga hal ini harus di dukung oleh status gizi yang baik. Seorang anak yang mengalami stunting pada masa ini cenderung akan sulit mencapai tinggi badan yang optimal pada periode selanjutnya. Hal ini dapat menyebabkan gangguan perkembangan fungsi kognitif dan psikomotor, penurunan intelektual, peningkatan resiko penyakit degeneratif serta penurunan produktifitas di masa mendatang (Wahyuningsih &Darni, 2021).

Upaya perbaikan stunting dapat dilakukan dengan peningkatan pengetahuan sehingga dapat

memperbaiki perilaku pemberian makanan pada anak yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gizi pada anak dengan memberikan makanan tambahan seperti mengkomsumsi daun kelor(Wahyuningsih & Darni, 2021). Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis tanaman yang mudah tumbuh didaerah tropis dan subtropis di semua jenis tanah. Word Healt Organization (WHO) telah menginformasikan bahwa mengkomsumsi tanaman kelor menjadi alternatif yang dapat digunakan untuk memperbaiki masalah gizi (malnutrisi). Tanaman kelor memiliki kandungan gizi yang tinggi (Merina et al., 2019). 

Malnutrisi atau kegagalan pertumbuhan adalah masalah kesehatan masyarakat yang menghebohkan, dan terus menjadi masalah kesehatan anak utama secara nasional, terutama di Asia

Tenggara dan Afrika. Kelainan patologis yang disebabkan oleh ketidakseimbangan, ketidakcukupan atau komsumsi zat gizi makro (karbohidrat, protein dan lemak) yang memasok energi makanan dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) yang diperlukan untuk perkembangan fisik dan kognitif (Zungu et al., 2019). Menurut WHO stunting merupakan permasalahan global yang diperkirakan sejumlah 149 juta balita mengalami stunting pada tahun 2018. Tren stunting secara global memiliki kecendrungan menurun dalam delapan belas tahun terakhir (2000-2018) yakni sebesar 10,6% begitu pula dengan indonesia, prevelensi stunting mengalami penurunan hingga 6,4 pada rentang tahun 2013-2019, namun indonesia masih termasuk dalam klasifikasi negara dengan prevelensi stunting sangat tinggi (Maria et al., 2020).

Stunting atau kurang gizi kronik adalah kegagalan pertumbuhan dan perkembangan. Kurang gizi kronik adalah keadaan yang sudah terjadi sejak lama , bukan seperti kurang gizi akut. Anak yang mengalami stunting sering terlihat memiliki badan normal yang dimiliki anak seusianya stunting pada anak usia di bawah lima tahun biasanya kurang disadari ole masyarakat(184 article). Usia di bawah lima tahun merupakan periode emas dalam menentukan kualitas sumber daya manusia yang dilihat dari segi pertumbuhan fisik maupun kecerdasan, sehingga hal ini harus di dukung oleh status gizi yang baik. Seorang anak yang mengalami stunting pada masa ini cenderung akan sulit mencapai tinggi badan yang optimal pada periode selanjutnya. Hal ini dapat menyebabkan gangguan perkembangan fungsi kognitif dan psikomotor, penurunan intelektual, peningkatan resiko penyakit degeneratif serta penurunan produktifitas di masa mendatang (Wahyuningsih & Darni, 2021).

Upaya perbaikan stunting dapat dilakukan dengan peningkatan pengetahuan sehingga dapat

memperbaiki perilaku pemberian makanan pada anak yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gizi pada anak dengan memberikan makanan tambahan seperti mengkomsumsi daun kelor(Wahyuningsih & Darni, 2021). Tanaman kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis tanaman yang mudah tumbuh didaerah tropis dan subtropis di semua jenis tanah. Word Healt Organization (WHO) telah menginformasikan bahwa mengkomsumsi tanaman kelor menjadi alternatif yang dapat digunakan untuk memperbaiki masalah gizi (malnutrisi). Tanaman kelor memiliki kandungan gizi yang tinggi (Merina et al., 2019).

Tingginya prevelensi stunting menjadi prioritas yang harus diselesaikan dengan sumber pangan lokal yang melimpah serta tinggi kandungan gizi, yaitu daun kelor. Daun kelor memiliki kandungan betakroten 4 kali wortel, 3 kali potassium pisang, 25 kali zat besi bayam, 7 kali vitamin C jeruk, 4 kali kalsium susu, 2 kali protein yogurt. Daun kelor digunakan sebagai pangan penanggulangan masalah kekurangan gizi pada anak anak dan upaya untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Daun kelor memiliki kandungan gizi yang tinggi dan mudah didapatkan masih sangat kurang dalam pemanfaatannya. Masyarakat pada umumnya hanya memanfaatkan daun kelor sebagai makanan yang diolah menjadi sayur bening (Rohmawati et al., 2019).

Moringa oleifera adalah salah satu pohon paling bermanfaat di dunia, karena hampir setiap bagian pohonnya dapat digunakan untuk makanan, pengobatan dan keperluan industri. Pohon ini berpotensi untuk meningkatkan gizi, meningkatkan ketahanan pangan dan mendorong pembangunan pedesaan.

Daun kelor juga digunakan sebagai pangan tambahan dalam mengatasi masalah kekurangan gizi pada anak-anak dan upaya untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Daun Moringa oleifera kering dari Zambia mengandung 24,5mg/100g zat besi lebih dari100g bayam, kalsium 1468mg/100g yang jumlahnya 10 kali lebih tinggi dari yang terkandung dalam 100g susu. Selain itu, bubuk Moringa oleifera Zambia kaya akan karotenoidyang jumahnya lebih dari jeruk, wortel daN melon. Bubuk Moringa oleifera kaya akan protein kasar (30,9g/100 g).

Kandungan energi, protein, dan kalsium pada Moringa oleifera membuat tanaman tersebut sebagai pilihan bahan makanan tambahan yang dapat mengurangi risiko stunting pada anak khususnya pada 1000 hari pertama kehidupan. Moringa oleifera merupakan tanama lokal yang tumbuh disekitar rumah sehingga mudah ditemukan untuk diambil manfaatnya.

 

Penulis Artikel

Referensi

Maria, I., Nurjannah, N., Mudatsir, Bakhtiar, & Usman, S. (2020). Analisis Determinan Stunting

Menurut Wilayah Geografi Di Indonesia Tahun 2018. Majalah Kesehatan, 7

Tampubolon, E. (2021). Faktor Prediktor Pertumbuhan Anak Usia 12-23 Bualan di Kecematan

Limo Kota Depok. Jurnal Kesehatan Komunitas, 7.

Wahyuningsih, R., & Darni, J. (2021). Edukasi Pada Ibu Balita Tentang Pemanfaatan Daun Kelor (Moringa Oleifera) Sebagai Kudapan Untuk Mencegah Stunting. JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT SASOMB

Yunus, M. R., Utami, A. K., & Aliah, M. N. (2021). Strategi Komunikasi Puskesmas Pasi Kepada Masyarakat Kampung Samberpasi Dalam Mencegah Stunting Pada Anak Usia Dini Melalui Program 1 Rumah 1 Kelor. Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan, Volume 5.

Zungu, N., Onselen, A. Van, Kolonisi, U., & Siwela, M. (2019). Asessing the nutritional composition and consumer acceptabilitiy of moringa oleifera leaf powder (MOLP)-based snacks for improving food and nutrition security of children nutrition. South African Journal Of Botany

Rohmawati, N., Moelyaningrum, A. D., & Witcahyo, E. (2019). Es Krim Kelor : Produk Inovasi Sebagai Upaya Pecegahan Stunting Dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 2, 1–88


Kembali
Charitas Mobile Care